Saya tidak mau kalah dengan rasa dingin. Selepas mandi pagi, saya ambil satu kumpulan puisi Ajip Rosidi. Kemudian membacanya di bawah sinar matahari Cimenyan.
Lupa soal judulnya, tetapi yang paling membekas di memori ialah puisi berjudul Terkenang Topeng Cirebon. Judul itu kemudian saya lihat tertulis di sampul kumpulan puisi Ajip Rosidi yang lain.
Tidak terlalu sulit saya cerna tiap diksinya. Apalagi setelah membaca satu kata pengantar dari A. Teeuw untuk judul puisi di atas.
Ini bukan lagi soal bagaimana saya berdamai dengan suasana pagi yang bikin menggigil. Ini adalah soal energi puisi yang masuk ke dalam pikiran. Bagaimana tiap kata saya resapi dalam pengalaman pribadi, lalu bagaimana kata itu tergambar dalam benak.
Saya pikir, puisi berguna bila sedang malas menulis panjang. Berikut dengan uraian teoritis yang menguras bacaan dan renungan. Tulisannya pendek, maknanya yang membentang.
Puisi sastrawan senior itu, kadang memotret dirinya juga membicarakan situasi sosial. Ketimpangan ekonomi dibicarakan. Kebimbangan diri dalam menghadapi hidup juga dipuisikan.
Saya jadi terpicu buat menangkap renungan saya menjadi puisi. Mesti terbilang ngasal dan mengikuti irama puisi Ajip Rosidi, dengan PD saya menulis begini:
Menembus Mata Anak
Kerap menangkap lalu-lalang
Mulai terpikat bacaan
Kadung dikandung kebodohan
Masa depan baru permulaan
Kata demi kata
Dieja
Makna demi makna
Dicerna
Kata-kata
Menembus mata anak
Cimenyan, Juni 2020.