Perempuan yang Pernah Menikmati Durian Bersamaku itu Bercerita tentang Pelangi Langit Perth.

in #bukupuisi4 years ago (edited)

IMG_0443[1].JPG

Hening Wicara, perempuan itu, yang senyumnya selalu seperti kembang gula yang tak habis-habis, duduk bersamaku dan teman-teman lainnya di meja yang sama, berebut durian dan bertukar kata-kata. Lalu diam-diam, saat puisi-puisi dan lagu didendangkan, kami bertransaksi. “Sebelas Hari Istimewa” berpindah dari tasku ke tangannya. Lalu perempuan ini membisikkan keinginan mengabadikan kisah perjalanannya ke Perth. Tentu saja, aku jadi orang yang akan bersabar menunggu. Maka ketika di grup Penyair Perempuan Indonesia, perempuan ini mengumumkan kegembiraannya, diam-diam aku pun merasa bahagia dan menanti.

IMG_0442[1].JPG

Dua hari lalu, buku ini sampai. Sengaja tidak langsung kuberi kabar padanya sebelum tamat memaknai seluruh kata dalam buku yang sejak tahun lalu ia rencanakan.

IMG_0376[1].JPG

Wahai Mbak Hening, lima puluh puisimu seperti mengajakku turut terbang ke Aussie. Melihat bunga-bunda di taman, makan nasi lemak di sebuah restoran, dan merasakan rindu kampung halaman setelah berada jauh di negeri orang.

Sebagai sebuah buku, tentu selalu ada ketidaksempurnaan. Hal kecil yang luput. Begitupun dalam buku ini. Teknis. Seperti penggunaan kata asing yang tidak dicetak miring, atau istilah yang tidak ada dalam KBBI, atau merupakan bahasa daerah (contoh: “kusut-masut” di halaman 50, yang merupakan bahasa Minang, sedang di kamus tertera “kusut-musut”) juga beberapa kata lain yang rasanya ingin saya “tarik” supaya miring alias ‘italic’ hehehe. Tapi tentu saja, tidak memengaruhi keseluruhan cita rasa. Sebab seperti judulnya, warna-warni kisah di Perth jadi pelangi yang indah untuk “dibaca” dan jadi pelengkap bahagia. Hal kecil teknis begitu, semua penulis pernah mengalaminya, seperti juga saya, yang pernah mengalami hal serupa. Biasa, manusiawi, dan wajar. Konon sebab karena penulisnya sudah terlalu akrab dengan (isi) puisinya.

IMG_0375[1].JPG

Puisi-puisi dalam Pelangi Langit Perth, didominasi kebahagiaan yang bikin kita bermenung. Beberapa puisi membandingkan Australia dengan suasana di tanah air, terutama soal kemajuan dan penerapan hukum. Puisi yang menyiratkan kerinduan pada orang-orang, pada masa lalu, pada rumah, tergambar ketika telah berjarak. Banyak kalimat yang bisa ‘dicomot’ untuk dijadikan petikan puisi demi kepentingan promosi. Salah satu contohnya ada di halaman 42, paragraf terakhir:
...
Ternyata, benar kata orang,
yang tak pernah pergi dari dalam diri,
selalu menghadiahi pulang

Perth, 2018

Begitu rupanya perempuan yang senyum manisnya mengalahkan manis durian yang kami nikmati bersama di Tanjungpinang tahun lalu ini mengemas kata-kata. Perempuan yang tujuh bulan lalu berkunjung ke kotaku dan meninggalkan jawaban atas pertanyaan “kapan bukunya terbit, Mbak?” dengan kiriman yang tiba dua hari lalu itu.

Tahniah, Mbak Hening. Sukses selalu.