Kalau diambil dari terjemahan bahasa Inggris (cliches) atau Perancis (stéréotype), pembaca budiman belum cukup paham apa maksudnya.

Namun jika diambil dari terjemahan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) – bisa juga cek versi online-nya – maka baru mengerti yang saya maksudkan. Klise (dengan ucapan “e” secara kuat - è, dan bunyi "s" seperti "sy) adalah penggunaan kiasan atau ungkapan yang sudah terlalu sering digunakan. Klise berarti mengikuti yang sudah ada.
Bagi pemuda angkatan 80-90an, klise artinya negatif film yang dipinjam dari pemilik kamera dan dicetak oleh semua orang di dalam foto itu. Artinya satu untuk rame-rame. Satu aslinya, lainnya ngopy. Generasi milenial sekarang mungkin tak mengenal lagi teknologi analog seperti itu. Saat ini semua serba digital, bahkan supra digital. Mengedit foto dengan tambahan hidung babi atau kuping anjing di wajah sendiri adalah salah satu perkembangan supra digital : snapchat.

Jangan klise! Itulah nasihat untuk semua tulisan, terutama tulisan kreatif (creative writing); baik dalam bentuk puisi, cerpen, artikel, esei, feature, catatan harian (daily report) atau catatan ringan di blog. Menulis pada dasarnya membuat sesuatu yang baru, meskipun tak ada yang sungguh baru di bawah matahari.
Tidak klise berarti menolak mencipta dari teori salin dan kemudian tempel di tulisan “baru” atau copy and paste. Penulis model ini disebut sebagai copy cat alias penjiplak. Penulis yang cuma punya keahlian mengopi dan menempel tak ubahnya makan permen karet dan menempel ampasnya di dinding atau bangku taman. Sama sekali tidak menarik.
Klise paling sering digunakan – terutama penulis pemula – ialah menulis kembali gagasan-gagasan utama yang sudah dipohonkan idenya oleh pemikir besar dan filsuf. Kita tidak berada di dunia untuk mendefinisikan sesuatu secara fundamental untuk pertama sekali. Kita makhluk Tuhan yang berada di ujung peradaban yang hanya bisa membuat catatan kaki (footnote), bukan lagi catatan besar (grand narratives).
Catatan besar sudah diselesaikan oleh Socrates (469 SM – 399 SM) di Athena, Yunani di hingga Walter Benjamin (15 Juli 1892 – 27 September 1940) di Berlin, Jerman. Juga sudah dilakukan oleh Kong Hu Chu (551 SM – 479 SM) di Zou Yi, Tiongkok hingga Mahatma Gandhi (2 Oktober 1869 – 30 Januari 1948) di Gujarat, India. Sebagai penulis artikel (arti asli articulus adalah kecil) kita memberikan kepingan-kepingan puzzle di dalam narasi-narasi besar itu.
Maksud saya, jika ingin menuliskan sebuah artikel yang panjangnya hanya 400 – 1000 kata, tidak perlu berpretensi membuat postulasi teoretis. Tak perlu lagi memulai dengan, “seni adalah, keadilan adalah, politik adalah...dst”. Ngomong-ngomong tentang penggunaan “adalah”, Prof Umar Kayyam pernah menyindir mereka sebagai “penulis adalah”. Secara gramatik, dalam bahasa Inggris penggunaan kata kerja bantu (auxiliary verbs) seperti is, does, am, are, have, etc memang tidak terhindarkan. Namun, dalam bahasa Indonesia kata itu bisa dihilangkan jika tidak sangat diperlukan. “Aku pahlawan bertopeng itu” (I am hero with the mask). “Diakah yang membunuhnya?” (Did he kill her?). Beruntunglah kita punya keunggulan logika otentik dalam bahasa Indonesia yang tidak dimiliki banyak bahasa lain.
Klise juga terjadi di dalam karya fiksi atau tulisan bersastra. Misalnya jangan pernah lagi membuat awal paragraf dengan “Di pagi yang cerah ini, ketika ayam mulai berkokok, padi pun indah menguning. Tikus-tikus berdecit dan kambing-kambing pun mengembik”. Untuk memberikan gambaran suasana tentang cerahnya pagi cukup misalnya,“Pagi ini cukup bercahaya untuk mengangkat tubuhku keluar dari sisa malas tidur semalam”.
Padi menguning, gigi menguning, Golkar menguning, dsb sudah terlalu sering kita dengarkan. Mungkin kita harus memilih frasa atau kalimat yang bisa memberikan tunggangan baru dalam tulisan kita, terutama di awal kalimat. Karena jika kalimat di paragraf pertama sudah klise atau copy-paste, bisa dipastikan selanjutnya juga truk sampah copy- paste.
Hal yang juga membuat pekerjaan membuat artikel di media seperti Steemit.com cukup bebas karena kita bisa memulai dari mana saja dan mengakhiri dengan apa saja. Meskipun harus diperhatikan juga hukum memulai, apakah dengan sketsa kasus atau statemen deduktif, akhir tulisan tetap harus menunjukkan fungsi epilogos; memberikan bobot kesimpulan. Bobot kesimpulan bisa hanya dengan satu paragraf atau satu kalimat. Bisa juga dengan model open-ended; mengakhiri dengan masih membuka tanda-tanya bagi pembaca.

Terakhir, jika Anda ingin membuat tulisan yang sifatnya personal, harus perhatikan tulisan itu bukan seperti tulisan di diary. Harus ada dimensi publik sehingga pembaca bisa menikmati itu sebagai pengalamannya juga. Anda harus sadar, apapun yang tertulis di media daring seperti Steemit ini akan terdokumentasi agak lama di dunia jaringan digital. Jadi jagalah seluruh rangkaian kata dan kalimat secara terukur. Jangan pernah tinggalkan kata-kata kasar, cabul, hinaan, makian, dll karena itu akan menunjukkan kelas Anda. Kelas kampungan!
Satu lagi, meskipun itu tulisan personal, tak perlu ia dihambur dengan kata ganti orang pertama tunggal dan jamak (“Saya”, “Aku”, “Kami”, “Kita”) terlalu banyak. Yang terlalu banyak itu sungguh ter la lu, kata Bang Rhoma. Goenawan Mohammad, eseis sekaligus pendiri Tempo pernah memberikan nasihat, “kalau Anda bukan tokoh sentral dalam tulisan yang ditulis, maka tak perlu gunakan kata ganti orang pertama (terlalu banyak).” Paling banyak dua atau tiga saja. Silakan saja periksa tulisan-tulisan personally intimate GM di “Catatan Pinggir”, Tempo. Hitung berapa kali ia gunakan kata “Saya” atau “Aku”.
Dalam hal ini @aiqabrago berhasil membuat sebuah artikel yang sangat personal tentang panjat pinang dan tak perlu memasukkan dirinya dalam tulisan itu meskipun reportase itu sangat diary bangetts. Ia juga tak bernafsu menjadikan tulisan itu straight news (berita langsung) ala jurnalis, karena Steemit bukan dihadirkan sebagai media berita. Di tengah-tengah pengambaran situasi secara 5W1H, tetap berikan opini Anda di sela-selanya. Jangan takut! Ketakutan adalah tanda Anda belum siap menjadi penulis. Menjadi penulis kadang seperti ikan Salmon, harus melawan arus utama opini publik kalau akal dan nalar literal kita berkata sebaliknya.
Klise berarti terhanyut di bawah setan-setan penulis lain!


Pesan akhir yang menarik.
Kesimpulan yang saya ambil, menulis lah walau sebagai pemula yang belum bisa menulis, tapi mencoba untuk menjadi diri sendiri, kemudian terus belajar agar lebih baik , tulis yang bermanfaat utk org bnyak atau tulis yang tidak merugikan orang lain, buang rasa takut , buat lah catatan dengan percaya diri , jangan meninggalkan kata caci sehingga membuat diri seperti banci, tanamkan percaya diri terus belajar sehingga jangan membuat diri menjadi orang yang kalah sebelum bertanding.
Mungkin itu maksudnya bang?
Terima kasih atas tulisan nya.
Saya baru lihat syarah sekaligus ekstraksi @rizaldamti yang tepat. Senang punya pembaca yanh kreatif.
Pada suatu hari, ketika saya sedang berjalan menuju sawah, berjumpalah dengan seorang sahabat saya yang sekampung dengan saya yang bernama @yahqan yang juga kawan sekolah saya dari kecil kami juga saling mengenal satu sama lain sehingga keakraban kami seperti rujak dengan meulisan di mana saya rujaknya dan @yahqan meulisannya yang tentu saja harganya lebih mahal dia sebab kalaupun buah-buahan juga mahal tetapi saya ibarat boh meuria yang bisa dibeli di pasar dengan harga murah seolah benda itu kita dapatkan secara gratis dan bukannya membeli, saking murahnya.
Demikianlah contoh kalimat klise, panjang, dan membungungkan dengan harapan mendapatkan karma baik secukupnya.
Postingan yang sangat edukatif @teukukemalfasya, dengan adanya postingan yang kaya ilmu seperti ini sangat barmanfaat bagi penulis terutama seperti saya yang masih baru dan terkhusus untuk para steemit yang mengandalkan tulisan pada setiap postingan. Terimakasih telah berbagi, saya tunggu postingan-postingan bermanfaat lainnya dari anda.
Salam kenal.
Terima kasih sudah menyenanginya @rizajb... Postingan itu saya buat semalam. Nulis jam 8.30 dan selesai jam 10. 30. Perlu setengah jam untuk edit dan setengah jam mencari foto dan meng-italic-kan kata-kata yang harus italic. Karena proses nya tidak seringkas menulis biasa.
Semangat pagi
Sungguh artikel yang sangat bermanfaat terutama bagi pemula dalam tulis menulis seperti saya ini. Thaks a lot brother
You're welcome @waldan. But the point is keep writing.... Never desperate
How come I upvote my own article? Hehehe...
Mantap.. artikel menulis kreatif ini sangat menarik. Masih banyak yang kurang kreatif dalam menulis mungkin karena sejak kecil.kita sudah terbiasa mulai mengarang dengan "Pada suatu hari..." :D
Ganti dengan pada suatu senja... Hehhee... Thanks for responding my article.
Cheers
Langsung simpan. Gadoh hana pat cok le. Kalau nanti hadir buku saku steemit maka satu bab khusus panduan menulis dengan asyik kana bahan. Tinggal tunggu beberapa artikel lain dari kemal
Danke schoen bg @rismanrachman... Untungnya di Steemit ini ruang menulis apa saja terbuka...
Emang bener apa yang ditulis oleh artikel ini..
Menjadi seorang menulis itu sangatlah susah sebenarnya, karena penulis harus mengerti arti bahasa, kosakata, tanda bahasa, dan bahasa baku lainnya.
Untuk memahami itu semua tidak cukup dalam waktu singkat, buktinya hanya beberapa persen saja orang yang sekolah dari SD sampai SMA yang dapat nilai bahasa indonesianya 100.
Bahkan hampir tidak pernah murid mendapatkan nilai 100 untuk bahasa indonesia saya berani jamin itu.
Bisa kita bayangkan belajar bahasa indonesia 12 tahun tidak pernah mendapatkan nilai 100 untuk bahasa indonesia.
Jadi untuk memposting di aplikasi esteem ini, saya rasa iaaa bebas saja, asalkan hasil dari postingan tersebut menarik untuk dibaca, mudah di pahami isi dari postingan, itu udh sangat cukup bagi para steemian.
Ia siapa yang mahir ataupun profesional dalam membuat artikel itu lebih bagus.
Banyak saya dapatkan artikel bagus , tapi votenya rendah.
Thanks artikelmu yang bagus, mengingatkan saya belajar bahasa indonesia di masa-masa sekolah dulu.
Thanks @khairulazami ..sebenarnya semua profesi pasti memiliki tantangannya sendiri2. Dan menjadi penulis yang baik juga adalah proses yang juga tiada henti.
luar biasa bg
Thanks @rahmats
artikel yang sangat mendidik
Terimakasih @agamsaia. Gut luck juga buat agam. Keep good writing
Menggigit ulasannya bg @teukukemalfasha, seperti biasa. Kalo sudah punya jam terbang nulis yg tinggi, pasti mudah membuat tulisan yg tdk klise ya. Tp klo penulis2 dadakan macam saya gini harus mati matian menuangkan ide dalam tulisan. Memang hrs byk latihan dan belajar dr master2 penulis spt abg ini.
Cara yang paling cepat adalah tulis hal-hal mudah dan dekat sekitar kita, tapi pilih strategi yang tak biasa. Jadi ikatkan ide dengan redaksi secara baru.
Nah strategi yg tak biasa ini bg, perlu dielaborasi. Mgkn abg bs menulis satu post ttg ini utk pembelajaran kami para penulis dadakan ini.