Siwah Mencuri Makanan Elang

in #fiction6 years ago

MAT Guci merebahkan badan di atas hamparan rumput yang tebal, di bawah pokok jambu mede. Dia menumpangi kepalanya dengan dua bilah telapak tangan. Matanya menatap seekor tupai yang sedang bergerak perlahan di salah satu pucuk jambu mede. Tupai itu menegakkan ekornya, sesekali berhenti dan memandang sekitar. Bulunya yang halus berwarna abu-abu terlihat indah dari bawah. Tupai itu terdiam sesaat karena merasa ada yang memerhatikan dirinya. Si tupai kemudian melompat ke batang kelapa. Selanjutnya mamalia pengerat ini meloncat lagi ke dahan pohon Ketapang.

Tupai itu nyaris mencapai tujuannya ketika seekor elang menyambar tubuhnya yang kecil. Tupai itu memberontak dalam cengkeraman elang, tetapi tak mampu melepaskan diri dari cakar si predator terbang tersebut.

“Klik….klik…klik….kuliiikkk…kulik….” Bunyi elang membahana di angkasa. Si burung besar itu seakan sedang meluapkan kegembiraannya karena berhasil menangkap mangsa.

Mat Guci terus memperhatikan tingkah elang yang masih berputar-putar di langit. Dia tidak bergegas turun untuk melahap si tupai yang ada di cakarnya.

Image by Pixabay

“Elang muda,” kata Mat Guci kepada diri sendiri.

Si elang masih saja mengeluarkan suara angkuhnya. Hingga tiba-tiba, seekor siwah (rajawali) menyambar elang muda yang sedang berputar-putar di angkasa. Elang tersebut terlihat limbung. Dia menukik tajam dengan tubuh terus berputar-putar ke bawah. Tupai yang ada di cengkeraman terlepas. Sementara siwah yang sebelumnya menghilang, kembali dan menyambar tupai yang terjatuh.

Siwah melakukan manuver di dekat elang yang masih saja meluncur ke bawah. Burung yang tubuhnya lebih kecil dari elang ini kemudian mengeluarkan pekikan dan terbang menuju puncak gunung Seulawah.

Uk keubeu uk, keubeu matee lam seunamuek. Pakoen matee ikah hai keubeue? Hana soe rabee iloen hai po, pakeun han karabee ikah hai aneuk miet? Saket pruet iloen hai po. Pakon saket ikah hai pruet? Bu mentah iloen hai po, Pakeun meuntah ikah hai bu? Kaye basah i loen hai po, Pakoen basah ikah hai kaye? Ujeun rhah ilon hai po, pakoen ka toh ikah hai ujeun? Cangguek lakee, ilon hai po, pakoen ka lakee ikah hai cangguek? Uleue coh iloen hai po, pakoen ka coh ikah hai uleue? Manoek pathuk ilon hai po. Pakoen ka pathuk ikah hai manoek? Kleueung tak ilon hai po. Pakon ka tak ikah hai kleueng? Siwah tak ilon hai po. Pakon ka tak ikah hai siwah? Galak-galak kutak sigoe.”

Brahim Naga tiba-tiba bernyanyi ketika mengetahui Mat Guci sedang memerhatikan tingkah siwah yang merebut mangsa elang. Nyanyian Brahim Naga membuat Mat Guci tertawa.

“Kamu lihat, bocah? Elang terlalu sombong menganggap dirinya sebagai satu-satunya raja angkasa karena tubuhnya yang besar. Padahal, masih ada siwah yang mampu merebut mangsa si elang,” kata Brahim membuka percakapan.

“Iya ayah, kesombongan akan mendatangkan malapetaka. Namun, mencuri makanan orang lain juga tidak baik,” kata Mat Guci lagi.

“Hahaha… Sudah menjadi kebiasaan siwah mencuri makanan elang,” kata Brahim Naga.

“Ayah, anakmu ini masih penasaran dengan Si Bulu Merah. Aku tidak pernah melihat makhluk itu. Bagaimana bentuknya ayah? Apa benar dia seperti manusia?”

“Iya, dia memang seperti manusia. Makanya dia disebut orang yang hidupnya di hutan. Tubuhnya dipenuhi bulu-bulu berwarna merah. Wajahnya menyerupai manusia dengan dua bola mata yang sama seperti bola mata kita. Dia juga memiliki hidung, tetapi tidak seperti bentuk hidung kita. Si Bulu Merah juga memiliki jari-jari tangan dan kaki seperti manusia,” kata Brahim Naga. (Baca juga: Bertemu Si Bulu Merah)

“Apakah Si Bulu Merah masih ada di puncak Lamuri atau Seulawah Agam?” Tanya Mat Guci.

“Ayah tidak pernah bertemu dengan mereka di daerah ini. Namun, ayah mendengar kabar mereka masih hidup di pelosok Indrapurwa. Jumlahnya tidak begitu banyak. Mereka sering menghidar dari manusia, sama seperti mante,” kata Brahim Naga.

Mante?

“Iya, mante. Makhluk kecil yang menyerupai manusia sama seperti Si Bulu Merah juga, tetapi kalau mante nyaris serupa dengan kita tanpa bulu seperti Si Bulu Merah,” kata Brahim Naga.

“Ayah, apakah kau akan kembali ke Pulau Weh?”

(Baca juga: Pulau Volcano)

“Iya, aku akan kembali ke sana setelah berhasil mencari kayu bahan pembuat perahu untuk armada Ts’ang,” kata Brahim Naga.

Mat Guci kemudian menanyakan bagaimana kisah selanjutnya setelah Brahim Naga bertemu dengan Si Bulu Merah dan sekelompok orang di semak-semak. Namun, Brahim Naga meminta waktu untuk beristirahat.

“Ayah bakal beristirahat sebentar saja. Waktu kami di sini hampir berakhir untuk hari ini, tiga hari lagi ayah janji kembali ke sini. Ayah juga masih penasaran dengan rencong yang kamu sebutkan tadi. Katakan pada ibumu, ayah dalam kondisi sehat seperti dulu. Maafkan ayah karena tidak dapat menemui ibumu. Ayah khawatir, ada lhoh (mata-mata) kerajaan di sekitar rumah kita,” kata Brahim Naga.

“Baik ayah, aku memaklumi kondisi ayah. Tapi aku menunggu janji ayah untuk kembali kemari tiga hari lagi,” kata Mat Guci.

“Iya, ayah janji. Sekarang, tunjukkan kemampuan silat yang sudah diajarkan Pang Amin si Pawang Harimau itu kepadaku sebelum aku memejamkan mata untuk beberapa saat. Jika ilmu silatmu sehebat engkau membuat parang, maka aku akan lebih leluasa beristirahat di sini,” kata Brahim Naga.

“Ah, ayah. Ilmu silatku masih sangat dangkal. Aku masih berada di tingkatan paling dasar seperti disebut Pang Amin. Anakmu ini bahkan belum mampu bermain pedang,” kata Mat Guci. (Baca juga: Pawang Harimau)

Brahim Naga tersenyum. Dia mengetahui jika Mat Guci sedang tidak ingin menyombongkan diri.

“Ayo, mulai saja. Tunjukkan satu dua jurus kepadaku,” kata Brahim Naga yang sejurus kemudian melayangkan pukulan ke arah Mat Guci.

Si bocah yang mendapat serangan tiba-tiba tersebut dengan serta merta mengelak. Kedua tangannya dengan sigap menutup pukulan demi pukulan yang disarangkan Brahim Naga. Kaki bocah ini juga dengan sigap menutup langkah Brahim yang terus mendesak ke depan.

“Gedubrak…” satu pukulan telak dari Mat Guci masuk ke perut Brahim Naga. Pria bertubuh gempal itu meringis. Dia kemudian tersenyum.

Image by Pixabay

“Bagus...bagus… Sekarang aku menjadi nyaman memejamkan mata di sini. Tolong jaga ayahmu, ya nak,” kata Brahim Naga sembari mengusap perutnya yang terkena pukulan Mat Guci.

“Baik ayah, sebagai seorang anak, pasti aku akan menjaga ayah meskipun nyawa jadi taruh…”

Brahim Naga menutup mulut Mat Guci. Dia meminta Mat Guci untuk tidak meneruskan ucapannya tersebut. “Lebih baik aku yang mati daripada anakku yang merenggang nyawa. Camkan itu, jangan pernah lagi kamu mengatakan demikian,” kecam Brahim Naga.

“Tapi ayah…”

“Sudah, kalau memang nanti ada orang-orang yang kamu curigai, segera bangunkan ayah.” Brahim Naga menghempaskan badan di rumput tebal. Dia menutup matanya dan langsung terdengar suara dengkuran keras dari mulut pria tersebut.

Mat Guci yang ditinggal tidur oleh sang ayah mencari kesibukan. Dia mengambil parang dan membersihkan ranting pepohonan yang berserakan di sekitar lokasi. Dia juga memotong rumput hijau di lereng Lemur untuk pakan sapi yang dipeliharanya. Sementara angin sepoi-sepoi menampar kumis Brahim Naga yang terlelap. Nun jauh di angkasa, elang yang kehilangan mangsa masih berputar-putar saja memerhatikan buruan baru. “Klik…klik…kliiik… kuliiikkk.” Bunyi elang samar-samar menghilang. (bersambung...)


Catatan: Tulisan ini merupakan serial fiksi yang saya garap dalam satu bulan terakhir. Tulisan-tulisan sebelumnya juga telah dipublikasi di blog ini dengan judul Petarung Cilik, Pulau Volcano, Lereng Lemur, dan Pawang Harimau. Baca juga cerita sebelumnya berjudul Kisah Kematian Si Tangan Kanan, dan Bertemu Si Bulu Merah.


Posted from my blog with SteemPress : https://abigibran.000webhostapp.com/2018/09/siwah-mencuri-makanan-elang

Sort:  

You got a 27.44% upvote from @oceanwhale With 35+ Bonus Upvotes courtesy of @desirichfhonna! Earn 100% earning payout by delegating SP to @oceanwhale. Visit www.OceanWhaleBot.com for details!

Congratulations! This post has been upvoted from the communal account, @minnowsupport, by boynashruddin from the Minnow Support Project. It's a witness project run by aggroed, ausbitbank, teamsteem, someguy123, neoxian, followbtcnews, and netuoso. The goal is to help Steemit grow by supporting Minnows. Please find us at the Peace, Abundance, and Liberty Network (PALnet) Discord Channel. It's a completely public and open space to all members of the Steemit community who voluntarily choose to be there.

If you would like to delegate to the Minnow Support Project you can do so by clicking on the following links: 50SP, 100SP, 250SP, 500SP, 1000SP, 5000SP.
Be sure to leave at least 50SP undelegated on your account.

Hello @boynashruddin, thank you for sharing this creative work! We just stopped by to say that you've been upvoted by the @creativecrypto magazine. The Creative Crypto is all about art on the blockchain and learning from creatives like you. Looking forward to crossing paths again soon. Steem on!