
Kemarin bukan akhir pekan tapi terasa lebih baik dari berakhir pekan. Di pantai itu tak terlalu ramai, aku dan anak-anak sangat menikmati pemandangan pantai dan sekelilingnya.


Pasir hitam dan pernah-pernik didasarnya terlihat lebih baik dari hari libur disaat pantai ini disesaki manusia.
Sejak pertama tiba, si kembar Twina Twini langsung meluncur dipasir dan akhirnya terjun ke air menikmati ombak. Beda dengan kakak-kakaknya yang wajib minum air kelapa muda dulu sebelum belajar berenang di area dangkal.

Itu mereka, menikmati alam tanpa beban, itu juga yang kurasa saat usia sebaya mereka. Selalu ingin bebas dan terus bermain sampai lelah.
Bahagia itu ketika melihat mereka bisa tertawa, berekspresi dengan air sesuka hati. Berlari saling kejar dan sesekali teriak girang.

Kata mendiang kakek mereka yang ku panggil Abu dulu, ketika anak-anak tertawa sedang bermain dan tanpa sesuatu yang lucu di depannya, itulah kebahagian anak-anak yang kasat mata. Itu juga bahasa tubuh yang tidak bohong.


Kemarin, anak-anak sangat menikmati pantai, tak riuh , bebas berlari tanpa takut tertabrak pengunjung lain. Karena disana hanya ada mereka dan nelayan dengan jaring pukatnya. Itulah cerita pantai, aku abadikan dengan kamera handphone Oppo A15
Beugot2 abi.. Nyan di seupet lee bieng ntreuk... Putus aneuk jaroe.. He he
Beutoi pak ...🤣🤣