Seberapa Beradab Negeri Jepang?

in #indonesia4 years ago (edited)

Belum hilang dari ingatan kita, bagaimana masa penjajahan Jepang terhadap negeri tercinta ini di masa lalu. Kepulangan mereka karena ledakan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki tidak meninggalkan apapun selain "goa jepang" dan "duka karena tertindas". Begitulah kira-kira guru sejarah bercerita.

Jika kita mengecek negara mana di dunia yang masyarakatnya paling banyak melakukan bunuh diri? Pasti Jepang menempati peringkat 1. Alasan yang paling logis adalah karena besarnya tekanan hidup di sana. Melewati 4 musim tanpa kebutuhan pokok berupa pangan sandang papan tentu sangat sulit. Bagian ini mungkin bisa kita pahami.

Makanannya aneh, ikan mentah, telur mentah, kacang kedelai fermentasi, hingga sperma ikan. Selama mereka menganggap makanan itu bergizi, mereka akan konsumsi. Meskipun, rasanya jauh dari kata "enak".

Hasilnya, kebiasaanpun tidak kalah aneh. Kebanyakan orang jepang tidak suka menikah dan memiliki anak. Perkembangan zaman di sana membuat masyarakatnya lebih suka menghabiskan waktu bekerja daripada kehidupan sosialnya. Jadi mereka menganggap dengan terikat hubungan dan anak, mereka akan merasa kerepotan untuk mengurusnya. Tentu saja, mereka berpotensi kehilangan generasi bila demikian.

images-2.jpeg
Source

Namun, dibalik segala bentuk ketidakcocokan dengan kita, Jepang tetap beradab. Mereka mau membersihkan kotoran yang dilakukan oleh orang lain. Kebiasaan ini tentu saja muncul dari aturan pemaksaan dulu. Kemudian, terbentuklah karakter yang mendarahdaging.

images-1.jpeg
Source

Lihat saja saat penonton Jepang mengutip sampah di stadion tempat tim mereka bertanding! Atau saat penonton asean games mengutip puntung rokok yang berserakan di sekitar stadion. Sungguh, bagian ini tetap membuat kita malu.

images.jpeg
Source

Kita malu karena di posisi yang sudah terdidik pun kita tetap tidak bisa meninggalkan kebiasaan membuang sampah sembarangan. Kita harusnya malu bahwa meskipun terdidik, kita belum mandiri dalam menangani sampah bekas kebutuhan pribadi kita. Jadi, perlukah kita memperbesar "rasa malu"? Atau memperbesar "malu" dengan imbuhan ke-an?

Terima kasih sudah mampir.

@jamanfahmi-1.png

Referensi:

1

2