Pencitraan, tembok baru untuk malas melakukan kebaikan

in #indonesia6 years ago

image

Tenang saja, tulisan ini tidak mengandung unsur politik, tidak akan memecah belah unsur persatuan dan kesatuan negara. Ini adalah tulisan murni atas realita dan data yang kita temui selama ini.

Apakah anda pernah mendengar istilah pencitraan? Pencitraan atau citra adalah istilah lama yang mengandung arti baru. Jika secara harfiah citra adalah sebuah gambaran pribadi yang dinilai oleh orang banyak. Itu dapat menyangkut pribadi, perusahaan, kelompok bahkan sebuah komunitas yang tidak begitu besar.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, kata pencitraan adalah bukan salah satu istilah baru yang kita dengar. Tapi itu adalah istilah lama yang kemudian populer sejak disebatkan pada salah satu kandidat presiden ketika melakukan kempanyenya, yang dianggap berlebihan.

Atau suatu kerja yang tak pantas dilakukan oleh seorang calon presiden, namun "disinyalir" hanya untuk mendapatkan popularitas diri dan itulah yang dimaksud mereka pencitraan.

Sejak itulah kata pencitraan menjadi populer. Kata pencitraan tidak mungkin akan melekat pada orang yang melakukan kejahatannya. Akan tetapi lazimnya, kata pencitraan akan selalu melekat pada mereka yang melakukan kebaikan, baik secara perseorangan atau kelompok.

Ternyata mayarakat kita terjebak dengan dramatisasi kata pencitraan tersebut bahkan beberapa akhir-akhir ini setiap perbuatan yang dilakukan oleh orang lain akan dianggap sebuah pencitraan diri.

Istilah pencitraan, akhir-akhir ini telah menjadi senjata untuk menghentikan perbuatan baik yang ingin dilakukan oleh orang lain. Memang jaman now, untuk berbuat baik pun sudah ya?

Saya memiliki pengalaman lucu tentang pencitraan ini. Hal itu terjadi saat saya dan teman-teman melakukan kegiatan penggalangan dana untuk korban gempa Pijay beberapa waktu yang lalu.

Dalam melakukan tugas umat dengan anggaran yang langsung dikutip dari umat. Tentu kami harus melakukan transparansi anggaran dan setiap hari saya harus mempostingnya pada beberapa media sosial yang saya miliki.

Tapi ya begitulah didalam setiap melakukan kebaikan tentu ada saja penghalang yang mengkritik dan menganggap bukan atas dasar ketulusan yang kami lakukan.

Dari sejumlah media sosial yang saya share informasi itu, banyak orang yang antusias mengamini dan mendoakan kami untuk tetap sehat. Namun ada juga yang mengomentarinya dengan kata "pencitraan". Seolah yang kami lakukan adalah untuk kepentingan pribadi kami. Begitu sulitnya melakukan sebuah kebaikan.

Cukup banyak orang yang menggunakan kata-kata ini akhir-akhir ini. Meski awalnya kata ini populer karena pejabat yang dianggap melakukan hal yang tak sewajarnya dilakukan. Akan tetapi saat ini kata itu tidak hanya dialamatkan pada pejabat "masuk got" saja. Untuk orang biasa yang melakukan kebaikan pun dianggap sebuah pencitraan.

Lantas apakah kita harus berhenti ketika banyak orang yang menganggap kebaikan itu pencitraan. Tidak, kebaikan harus tetap dilakukan meski dibunuh sekalipun. Melakukan kebaikan akan selalu dipenuhi dengan berbagai tantangan, hasutan, fitnah, klaim pencitraan, di bunuh dan sebagainya. Itu adalah lazim. Tapi bagiamana pun perbuatan baik jangan dihentikan.

image