Pendidikan Dayah yang Terlindas Zaman

shahro_ramadan_by_islamicwallpers-768x480.jpg

Kata “Dayah” bagi sebagian masyarakat terdengar asing, padahal dayah adalah salah satu titik bermulanya pendidikan di Aceh. Banyak masyarakat yang melupakan pendidikan di dayah, karena alasan dayah terkesan kolot dan kuno. Era teknologi menjadikan dayah sebagai salah satu tempat yang kuno sehingga bagi siapapun yang belajar di dayah dan tidak menempuh pendidikan formaal akan dianggap tidak gaul. Padahal eksisitensi dayah telah ada sejak zaman kesultanan.
Pendidikan di Aceh terutama dayah memiliki sejarah yang sangat panjang. Pada awal mula masa kesultanan, rakyat Aceh tidak mengenal sistem pendidikan formal, yang ada pada awal mula sejarah pendidikan di Aceh adalah meunasah sebagai pusat pengajian untuk memperdalam ilmu agama. Minat masyarakat Aceh terhadap pendidikan di meunasah ini cukup tinggi mengingat dari zaman dahulu masyarakat Aceh sangat kuat dan teguh memegang prinsip keagamaan. Perkembangan pendidikan dari meunasah menjadi rangkang (balai) yang diajarkan tetap ilmu agama seperti ilmu tauhid, fikih, bahasa arab,dan tajwid.
Pada setiap lembaga pendidikan di Aceh kala itu yang menjadi guru biasanya adalah teungku imum (Imam masjid) mengajarkan anak laki-laki di setiap desa masing-masing sedangkan yang perempuan biasanya diajarkan oleh istri dari teungku imum. Begitu pula dengan pendidikan dayah. Dayah adalah tingkat pendidikan tertinggi kala itu, ilmu-ilmu yang diajarkan pada setiap murid juga lebih tinggi. Pada pendidikan dayah setiap murid diwajibkan untuk bisa berbahasa arab sehingga tak heran jika pada pendidikan di dayah mempelajari ilmu sharaf (asal usul kata) dan nahwu (tata bahasa arab).
Ternyata pendidikan dayah sangat diminati oleh warga nusantara yang menganut agama Islam. Maka dari itu pendidikan dayah tersebar di berbagai wilayah nusantara yang penduduknya menganut agama Islam. Hal ini menjadikan pendidikan dayah memiliki peranan penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah tanah air. Jauh sebelum Belanda menginjakkan kaki di Aceh, Aceh adalah wilayah kerajaan yang menganut sistem tata pemerintahaan Islam, hal ini juga memengaruhi sistem pendidikan di Aceh yaitu meunasah, rangkang, dan dayah.
Eksistensi pendidikan dayah terus berkembang, hal ini dibuktikan dengan adanya dayah tinggi di daerah Cot kala. Dayah tinggi cot kala merupakan pusat pendidikan tinggi Islam pertama se-Asia Tenggara. Peranannya tidak main-main, dayah tinggi cot kala melahirkan banyak alumni dan pendakwah Islam yang kemudian menyebarkan Islam keseluruh kawasan nusantara, hingga ke selat Malaka. Hasil dari dakwah para alumni dayah tinggi cot kala menjadikan acuan lahirnya kerajaan-kerajaan Islam di daerah. Banyaknya kerajaan pada masa itu akhirnya melebur menjadi satu kerajaan pada abad ke-16 dengan nama Kerajaan Aceh Darussalam.
Sultan Ali Mughayatsyah dinobatkan menjadi sultan pertama Kerajaan Aceh Darussalam. Ia memerintah dalam rentang waktu 916-936 Hijriah. Perguliran kekuasaan pada kerajaan Aceh Darussalam hingga pada masa Sulthanah Ratu Safiatuddin. Terbentuklah qanun meukuta alam yang berisi tentang ‘Ulama dan raja tidak boleh jauh atau tercerai, sebab kalau ada jarak diantara mereka niscaya binasalah negara.’ Hal ini menjadikan bahwa pemimpin harus memiliki dasar keilmuan yang mumpuni.
Kerajaan Aceh Darussalam sangat mementingkan ilmu pengetahuan bagi setiap orang, terlebih kepada pemimpin dan penguasa. Melihat begitu pedulinya para pemimpin kerajaan Aceh Darussalam terhadap ilmu pengetahuan, maka tak heran jika banyak para ulama–ulama dan ilmuwan serta pemimpin yang memiliki kualitas mumpuni, hal ini menjadikan Aceh terkenal terutama pada masa Sultan Iskandar Muda. Banyak para masyarakat luar Aceh berlayar mengarungi pulau dengan kapal untuk bertandang dan belajar di Aceh.
Ketika pada saat itu Malaka ditaklukkan oleh Portugis, ulama- ulama dan para mubaligh Islam dari Malaka pindah ke Aceh. Bersama dengan para pendidik dari Aceh, mereka bekerja sama untuk menyiarkan agama Islam dan mendidik calon ulama yang bersekolah di dayah-dayah. Pendidikan karakter Islam di Aceh terutama melalui dayah-dayah saat ini banyak dilupakan oleh masyarakat abad ke-21, pendidikan dayah padahal memiliki peranan penting dalam penyebaran agam Islam terutama di Aceh yang memiliki julukan Serambi Mekkah ini.
Melihat pendidikan saat ini, sebenarnya proses belajarnya tak jauh beda dengan pendidikan di masa dahulu yang menganut sistem pendidikan agama Islam. Jika saat ini pendidikan dimulai dari jenjang SD (Sekolah Dasar) – SMP (Sekolah Menengah Pertama) – SMA ( Sekolah Menengah Atas), pendidikan zaman dahulu juga memiliki jenjang yaitu Meunasah- Rangkang- Dayah.
Tingkatan pendidikan di Aceh masa lampau:

  1. Meunasah, yaitu sekolah awal atau permulaan. Ilmu yang diajarkan pada tingkatan meunasah adalah ilmu dasar seperti membaca huruf arab, menulis huruf arab, rukun Islam, rukun iman, dan hal-hal yang mendasar yang wajib diketahui oleh seluruh umat Islam.

  2. Rangkang, yaitu balai-balai yang ada dekat dengaan masjid dan berasrama. Pada pendidikan rangkang setiap murid daiajarkan untuk memahami ilmu tauhid, fikih, tasawuf, sejarah Islam/umum. Pada tingkat pendidikan rangkang setiap murid diajarkan membaca kitab dalam bahasa melayu dan arab.

  3. Dayah, tingkat pendidikan di Aceh yang biasanya terdapat di tiap-tiap daerah, dayah juga dapat berpusat di masjid. Dayah juga dapat digabungkan dengan rangkang yang menganut sistem asrama atau menginap di tempat belajar. Dayah juga mengajarkan para muridnya untuk salat berjamaah sesuai yang diajarkan oleh Alquran, hadits dan kitab. Dayah juga tidak hanya mengajarkan ilmu agama sering perkembangan juga mengajarkan ilmu pertanian, perniagaan ( ekonomi), hukum dan lainnya.
    Selain dayah, tingkatan dayah yang lebih tinggi disebut dayah manyang (dayah teungku chik) yakni satu tingkat diatas dayah. Penyebaran dayah manyang tidak sesemarak dayah pada umumnya.

    Zaman Belanda
    Ketika Belanda menyatakan perang terhadap kerajaan Aceh pada hari Rabu tanggal 26 Maret 1873. Ketika Belanda dengan serdadu dan penguasanya menduduki Aceh pada abad ke-20, Belanda dengan semena-mena terhadap Aceh hingga pendidikan dayah pun tidak dilanjutkan. Belanda menerapkan pendidikan dengan cara dan sistem sekolah. Pengembangan sekolah di Indonesia dimulai pada abad ke-19. Pada tahapan pertama Belanda mendirikan sekolah dasar tiga tahun pada tahun 1892. Kemudian Belanda menyediakan pendidikan bagi anak-anak pribumi Indonesia pada tahun1854. Perkembangan pendidikan terus dilanjutkan Belanda, pada tahun 1867 didirikanlah departemen pendidikan, dan pada tahun 1892 didirikan sekolah guru untuk mendidik guru- guru.
    Sejak saat itu perkembangan pendidikan dasar di Indonesia terus berkembang dengan sangat cepat. Belanda terus sukses mengembangakan sistem pendidikan sekolah. Berkat keberhasilannya Belanda semakin percaya diri dengan mengembangkan dua sistem sekolah lagi yaitu sekolah kelas I (eerste klasse) untuk anak-anak konglomerat pribumi dan orang penguasa sedangkan sekolah kelas II (tweede klasse) sistem pendidikan sistem dua ini untuk kalangan biasa dan rakyat.
    Eksistensi sekolah berusaha mengalahkan ketenaran sistem pendidikan dayah dikala itu, hal ini dibuktikan dengan Belanda yang terus mengembangkan sistem pendidikan sekolah desa pada tahun 1907, sekolah desa juga dikenal dengan Volkschool. Belanda yang semakin berkuasa di nusantara memulai membangun sistem pendidikan sekolah yang lebih kompleks di Aceh.
    Pada tingkat dasar seperti volkschool (sekolah desa), indansche vervlogschool (sekolah pribumi lanjutan), Meisjesschool (sekolah putri), Vervlogschool-met nederlansche school (sekolah dasar Belanda untuk pribumi), europeesche lageree school (sekolah dasar untuk anak-anak eropa), Hollandsche Chinese school (sekolah Belanda untuk china) dan banyak jenis sekolah lainnya. Pada tingkatan menengah, Belanda yang semakin berani mendirikan sekolah MULO di Koetaradja (sekarang Banda Aceh) MULO merupakan satu-satunya sekolah menengah pada waktu itu.
    Belanda memiliki pengaruh yang besar dan semakin meluas, dalam bidang pemerintahan, pendidikan, dan lainnya. Sebelum perang banyak para ulama yang memimpin pendidikan dengan ceramah-ceramah di dayah kini turun langsung ke medan perang untuk berjihad ketika perang terjadi. Namun, juga ada yang terus melanjutkan dan melaksanakan pendidikan di samping memimpin perjuangan dengan senjata seperti Teungku Chik di Tiro.
    Ulama yang menjadi tempat bertanya dan tetap mengajarkan ilmu dengan sistem pendidikan dayah di daerahnya, di pedalaman Aceh seperti Teungku Chik tanoh Abee (Teungku chik Abdul Wahab) di kawasan Aceh besar. Walaupun menempuh jalur yang berbeda ulama-ulama tersebut tetap mendidik serta mengajar sehingga banyak melahirkan ulama Aceh yang berkualitas.
    Berkuasanya Belanda di kota-kota, mereka membuka tempat pendidikan berupa sekolah sedangkan ulama meneruskan sistem pendidikannya dengan dayah-dayah di desa yang terpencil jauh dari pusat keramaian. Dengan adanya dua sistem pendidikan di Aceh, yaitu pendidikan asli dari rakyat Aceh yang berupa dayah dan sistem pendidikan baru yang dibawa Belanda disebut sekolah.
    Pendidikan dayah dan pendidikan sekolah sangat bertentangan dalam hal tujuan dan prinsip. Pendidikan yang sudah berjalan lama di Aceh adalah dayah yang betujuan untuk meneruskan pendidikan bagi umat Islam dan mempertahankan semanagat juang rakyat agar tidak lumpuh mental sehingga sulit dipengaruhi oleh Belanda. Hal berbeda terlihat dengan sistem pendidikan sekolah yang bertujuan untuk menundukkan rakyat Aceh dan mencerdasakan rakyat Aceh dengan tujuan tertentu demi kepentingan Belanda. Dapat dikatakan bahwa tujuan Belanda menerapkan sistem pendidikan sekolah untuk menarik perhatian rakyat, hal ini terlihat dari Belanda yang mengutamakan pelajaran menyanyi untuk memuji Belanda dengan dinyanyikannya lagu wihelmus.
    Demi melancarkan niantnya untuk memanfaatkan rakyat Aceh, Belanda mendatangkan guru dari luar Aceh untuk mengajarkan murid-murid di sekolah yang didirikan Belanda. Seorang guru sudah dihitung pintar jika ia sudah jago menghitung dan bernyanyi, mereka juga dibberikan fasilitas yang memadai serta kehormatan dari Belanda. Untuk orang-orang yang memiliki kasta konglomerat mereka diberikan pendidikaan khusus yang dididik oleh orang Belanda langsung, tujuannya untuk membuat rakyat Aceh mendukung pergerakan Belanda.
    Belanda dengan segenap usahanya mencoba untuk membubarkan pendidikan dayah. Belanda mengetahui dengan pasti bahwa pendidikan dayah menanamkan rasa benci terhadap Belanda, karena Belanda merupakan musuh Islam. Dengan hal tersebut para ulama mencoba memugar dayah untuk menjadikan dayah sebagai salah satu pendidikan yang tidak kalah saing dengan Belanda. Snouck hugronje yang merupakan seorang ilmuwan Belanda yang memepelajari seluk beluk rakyat Aceh, memberikan ide untuk menjalankan politik asosiasi dengan kaum pribumi, politik yang mengedapkan ikatan antara negeri jajahan dengan penjajahnya melalui kebudaayn.
    Namun, rakyat Aceh yang kian pintar tidak tergiur dengan politik asosiasi yang diterapkan Belanda ini. Hal ini dikarenakan pendidikan dayah memiliki daya tarik yang lebih besar dibandingkan pendidikan sekolah. Masyarakat Aceh menganggap pendidikan sekolah adalah pendidikaan kafir yang ingin menghilangkan agama rakyat Aceh. Paradigma masyarakat Aceh terhadap pendidikan yang didirikan oleh Belanda menjadikan pendidikan dayah lebih populer kala itu. Pendidikan dayah dianggap lebih memiliki potensi yang besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.

    Ketika masa setelah kemerdekaan, pusat-pusat pendidikan dayah di Aceh banyak yang memiliki asrama atau dapat dikatakan pondok. Pondok ini merupakan tempat tinggal bagi para guru dan murid yang belajar di dayah. Lembaga pendidikan dayah ini pada umumnya memiliki tingkatan sesuai dengn usia dan pengethuan dari murid. Posisi dominan yang dipegang oleh lembaga pendidikan dayah ini sebagian dikarenakan suksesnya lembaga dayah menghasilkan ulama-ulama yang kompeten dan berkualitas tinggi dengan dijiwa oleh semangat keislaman di Aceh.
    Penddidikan dayah memiliki tujuan yang mulia, karena tidak hanya memperkaya pemikiran murid, namun juga untuk mendidik moral , melatih semangat , menghargai nilai-nilai spiritual, dan kemanusiaan. Pendidikan dayah juga tidak hanya untuk mengejar kepentingan kekuasaan, kesenangan, uang, dan lainnya. Pendidikan dayah memiliki tujuan utama untuk mengedapankan pendidikan dan pengabdian kepada Tuhan.
    Seiring berkembangnya zaman, fungsi pendidikan dayah tidaklah sepopuler dulu, hal ini terlihat dari para generasi muda yang enggan belajar di dayah. Hal ini cukup menkhawatirkan karena pengaruh globalisasi, eksistensi pendidikan dayah terlindas oleh zaman. Pendidikan dayah dianggap tidak modern, bagi siapapun yang belajar di dayah dianggap kuno dan kolot. Hal ini dapat menjadi pemicu lunturnya semangat patriotisme dan nasionalisme dikalangan generasi muda Aceh saat ini.
    Perkembangan sistem pendidikan dayah di era globalisasi ini secara bertahap mengalami pergeseraan. Melihat sistem pendidikan Indonesia saat ini yang masih kalah saing dengan bangsa luar, hal itu dapat diatasi dengan pendidikaan dayah yang mencetak generasi tangguh dan berintegritass di masa yang akan datang.

Sort:  

Hi! I am a robot. I just upvoted you! I found similar content that readers might be interested in:
http://ranisalsabilaefendi.blogspot.com/

hay, absolutely. that is my blogspot :)