Petak Umpet Petang

in #story6 years ago

"Hompimpa alaihum gambreng," ucap kumpulan anak-anak di lapangan luas sebuah kampung terpencil di pelosok Pulau Jawa.

Meskipun suasana sore hari yang mendung diisi semilir angin dingin membalur, tetapi tidak sedikitpun menghalangi keseruan permainan petak umpet mereka.

"Yuni jaga, Yuni jaga ...," ujar anak-anak yang lain saat seorang anak perempuan berbando merah kalah hompipah.

Dengan berat hati akhirnya Yuni pergi ke sebuah pohon tua besar yang konon kabarnya adalah tempat di mana setan suka berkumpul. Sarang demit pemangsa manusia.

Gadis cantik berpipi tirus tersebut melipat tangannya di pohon dan mulai menghitung. Walau ada enggan mengganjal di hati.

images(53).jpgSuGam

"1, 2, 3, 4...."

Tiba-tiba di pertengahan hitungan, angin kencang bertiup menggelitik tengkuk Yuni yang seketika membuatnya merinding.

Teringat cerita orang tuanya mengenai keangkeran pohon tersebut. Peringatan agar jangan bermain di situ saat sore menjelang. Karena dulu sewaktu mereka kecil, ada anak yang bermain di sana sewaktu petang dan esoknya diketemukan telah mati dengan bekas cekikan di leher.

Yuni mulai ketakutan, akan tetapi terselip enggan untuk meninggalkan permainan, karena tidak mau diejek teman-temannya sebagai penakut, sehingga terpaksa ia meneruskan lagi hitungannya.

images(54).jpgSuGam

"5, 6 ..."

"Yuni ...," ucap suara yang terdengar sangat dekat di telinganya.

Ketakutan makin menggelayuti hati, tetapi ia telah bertekad untuk menyelesaikan hitungannya apapun yang terjadi.

"7 ...."

"Yuni ...." Suara itu semakin menjauh.

"8 ...."

"Yuni." Lamat-lamat terdengar dari jauh.

"9 ...."

"Yuni ...." Kali ini panggilan menyeramkan itu diiringi sebuah sentuhan di pundak kecilnya.

"10 ...," kata Yuni, mengakhiri hitungannya dengan suara bergetar.

Tak ada panggilan lagi, hanya sebuah gerakan mengguncang tubuhnya yang sudah terasa kebas.

"Glek!" gadis kecil itu menelan ludah dengan berat.

Merasakan guncangan yang ia terima semakin kencang, Yuni memberanikan diri untuk membalikan badan.

images(55).jpgSuGam

Pelupuk matanya digenangi air mata begitu mengetahui kalau ternyata ibunya lah yang sejak tadi ada di belakang.
Dia langsung melompat memeluk wanita yang mengenakan daster bunga-bunga tersebut dan menangis sesenggukan di sana. Melepas ketakutannya.

"Kamu kenapa nak?" tanya si ibu.

"Yuni takut bu." jawab Yuni sambil menahan tangis.

"Kan ibu sudah bilang, jangan main disini sore-sore. Kamu bandel sih. Sudah, sekarang kita pulang."

Yuni mengangguk, mengiyakan ajakan ibundanya.

Gadis berbando merah tersebut kemudian berjalan sambil dituntun oleh ibunya.

Tetapi belum jauh melangkah, timbul perasaan aneh di benaknya karena dia sadar kalau mereka berjalan masuk ke dalam hutan, dan bukan ke desa yang ada di arah berlawanan.

"Bu kok kita kesini?" tanya Yuni, mendongak menatap ibunya.

Wanita paruh baya itu hanya diam.

Yuni semakin khawatir karena di balik temaramnya cahaya sore hari, dia melihat wajah pucat pasi ibunya.

"Ibu kenapa? Ibu sakit ya? Kok wajahnya pucat begitu?"

Tetap tak ada jawaban.

"Bu .. Ibu kenapa? Jawab Yuni!"

"Yuni!" Dari jauh terdengar suara teriakan dari orang banyak di belakang mereka hingga membuat Yuni urung meneruskan kata-katanya.

Yuni memendekan langkahnya dan coba menajamkan pendengaran untuk menangkap suara-suara jauh di belakang.

Cara-Menutup-Mata-Batin-Anak-Kecil-Yang-ketakutan-Melihat-Goib.jpgSuGam

"Yuni .. dimana kamu nak!?" panggil suara seorang wanita yang sangat familiar.

Suara ibunya.

Yuni menoleh kebelakang dengan sejuta tanya. Jika suara tadi adalah suara ibunya, lalu siapa orang yang menuntunnya ini? Pikirnya penuh ketakutan.

Gadis itu memicingkan mata untuk menajamkan penglihatan, memastikan siapa orang yang tengah berjalan disampingnya.

"Siapa kamu!" ujar Yuni dengan suara parau.

Wanita itu menoleh lalu tersenyum.

Sebuah senyum lebar hingga mulutnya terbelah sampai ke ujung telinga.

images(56).jpgSuGam

Tangan wanita itu bergerak cepat mencekik leher Yuni hingga dia tidak bisa mengeluarkan suara untuk berteriak.

Sosok keduanya hilang bagai ditelan angin, sesaat sebelum warga beserta kedua orang tua gadis mungil itu sampai di tengah hutan tempatnya digiring setan wanita bermulut robek.

Re-Kun
Bandar Lampung, 07-08-14

Cerita ini pernah diposting di sini dimuat kembali dengan sedikit perubahan.

Sort:  

Jadi ingat masa kecil :)

Kalau di Aceh lebih dikenal dengan nama "cang cuebet". Saya masih ingat betul masa lalu, lebih" pada bulan Ramadan, malamnya anak" asik bermain diluar rumah sambil menunggu orangtuanya pulang salat terawih :)

Tapi kayaknya jaman sekarang udah jarang begitu... Karena banyak anak-anak lebih suka bermain game di gawai...

cerita horor yang bagus
kalau ceritanya dilanjut sepertinya lebih seru nih, bisa jadi film horor, dengan latar belakang permainan anak2 tradisional. jadi bisa juga buat mengenalkan pada anak2 kekinian untuk tahu ada permainan anak2 sebelum ada games gegawai yang lagi in.

Terimakasih... 😊

Bisa juga... Tapi takutnya malah efeknya berbalik karena anak-anak jadi takut diculik hantu... 😂

teringat masa kanak-kanak dulu, cerita yang bagus

Terimakasih... 😊

Congratulations @re-kun! You have completed the following achievement on Steemit and have been rewarded with new badge(s) :

Award for the number of comments

Click on the badge to view your Board of Honor.
If you no longer want to receive notifications, reply to this comment with the word STOP

To support your work, I also upvoted your post!

You can upvote this notification to help all Steemit users. Learn why here!