Layar Telah Digelar

in #esteem6 years ago (edited)

image
image source [google](https://dailytitan.com/2018/03/slam-poetry/)

Layar telah digelar. Sialnya hidup tak selalu datar. Kehidupan keluarga Mbok Sumi pun terpapar. Meski bendera telah lama berkibar, isi kwali Mbok Sumi tak kunjung bersahabat dengan kayu bakar. Isinya bukan beras, melainkan batu padas. Cadas.

Anaknya terus menangis. Mungkin karena cacing di perutnya terus mengais. barangkali juga, rasa lapar yang tak kunjung tepis. Belumlah usai ujung cerita, tangisnya terhenti untuk selamanya.

Layar telah digelar. Sayangnya, dia ada di tengah belukar. Di tempat ini kemiskinan memang telah mengakar. Bukan karena kabar tak beredar, bukan pula karena rombongan yang di-saffari-kan negri ini tak mendengar.

Mereka masih sibuk menakar, dan menukar. Menakar anggaran yang akan disebar, lalu menukar dengan lahan perkebukan yang luasnya berhektar-hektar. Dan yang diterima para warga miskin di sini hanya kabar, ‘tunggu sebentar.’ Sampai masanya bubar. Ah,

image
image source [google](http://www.tatkala.co/page/64/)

Semoga aku tak mengunjungi prodeo karena menceritakan semua ini padamu, yang tak tahu, atau mungkin yang lebih tahu, lalu mengajariku, kemudian kupanggil guru. Jika sampai aku dibui karena cerita ini, maka dongeng nenekku tentang ‘demokrasi hanyalah kredit mimpi yang belum dilunasi,’ adalah benar sekali.

Layar telah digelar. Sepertinya tak ada yang sadar. Benar. Masih terasa segar sisa api yang melalap habis rumah Mbok Sumi, terbakar. Kwalinya ambyar. Percikan api liar, seketika menyambar. Benar. Para tetangga tak sadar.

Sebagian ada yang tengah menunaikan shalat Asar. Sebagian pergi ke kota, berakting di trotoar, sambil berharap ada koin terlempar, dan selebihnya entah apa yang dikerjakan, yang penting di warung ada yang bisa ditakar.

Dari anak-anak kecil yang terkadang ingusnya menjulur dari lubang hidung, kabar kebakaran ini tersiar. Tak butuh waktu lama, tempat ini menjadi serupa pasar. Semua terlihat sedih, karena di sini untuk bersedih tak perlu mendaftar.

Di sini, kesedihan itu saudara dekatnya sabar. Sementara aku hanya bisa menangis. Sambil didis. Karena aku hanyalah pahlawan sandal jepit yang penuh dengan kudis. Aku sangat ingin menolong. Tapi apa yang bisa kulakukan selain menangis dan bengong? Yang mau ditolong sudah pada gosong.

image

image