
Two sides of the creature doomed "the khalik" to meet, to meet each other face, chatting, mutual love, every day beats. One month together wading through the ark of sins in every breath.
The khalik confronts Ramadan with man as He brings the sun, the air, the water and the beauty of the universe, but not forever. Ramadan will go at the end of the moon, he will come back if we are of age.
This is where the khalik show greatness, Ramadan becomes the determinant of age and become the standard of faith as an immortal provision, if later no longer meet the next Ramadan.
Then write to your souls about the burning of sin, the crushing of all ugliness and the destruction of unwise temperament, on the body, on the soul and on your kingdom.
The war drum is in the tabuh, we must fight ourselves, the real enemy we have in mind and lust, fight to the point of last blood, do not give up for any reason, strengthen the line of faith and piety because he is the weapon to victory.
The Azan reverberates, it's a sign we start betting on the brink of the day and it's also a sign for a moment we take a break from the hunger and thirst that makes us even worse.
Then prolong the intention of your dhikr among the congregation read the Qur'an in every pulse, for the preparation of the war tomorrow.
Keep this jihad for you, for me, for all of us, be sorry if you lose in this war, please forgive, surely out of this war we are better than ever.
Tell the universe, the unbeatable victory over your struggle against lust and shake hands on the same fellow beings fighting on the road to fitri.
Ramadan on the throne of his love and the endless inexplicable in a span of thousands of miles of prayer mat.
O Allah, Forgive my sins
16 Ramadhan 1439 H
DI SINGGASANA RAMADHAN

Dua sisi mahluk ditakdirkan Sang Khalik untuk bertemu, untuk saling bertatap muka, bercengkrama, saling mengurai cinta, disetiap denyut hari. Satu bulan bersama mengarungi bahtera penghapusan dosa dalam setiap desah nafas.
Sang khalik mempertemukan Ramadhan dengan manusia seperti Ia mempertemukan matahari, udara, air dan keindahan semesta, tapi tidak untuk selamanya. Ramadhan akan pergi di ujung bulan, dia akan kembali jika kita ada umur.
Disinilah sang khalik tunjukkan kebesaranNya, Ramadhan jadi penentu umur dan jadi patokan iman sebagai bekal abadi, jika kelak tak lagi bertemu Ramadhan berikutnya.
Maka tuliskan lah pada kalbumu tentang terbakarnya dosa, terhempasnya segala keburukan dan hancurnya perangai yang tak bijak, pada tubuh, pada jiwa dan pada kerajaanmu.
Genderang perang tengah di tabuh, kita harus melawan diri sendiri, musuh yang nyata kita ada di fikiran dan nafsu, melawanlah hingga titik darah terakhir, jangan menyerah dengan alasan apapun, perkuat barisan iman dan ketakwaannya karena dia adalah senjata menuju kemenangan.
Azan berkumandang, ini tanda kita mulai bertaruh mengarungi teriknya siang dan menjadi tanda pula untuk sejenak kita beristirahat dari rasa lapar dan dahaga yang menjadikan kita semakin fakir.
Lalu panjangkan lah niat zikirmu diantara jamaah lafazkanlah kalamullah di setiap denyut nadi, untuk persiapan perang esok hari.
Teruslah berjihad ini untukmu, untukku, untuk kita semua, berdukalah bila kamu kalah di perang ini, mohon ampun, niscaya di luar dari perang ini kita lebih baik dari sebelumnya.
Kabarkan pada jagat raya, kemenangan tiada tara atas perjuanganmu melawan hawa nafsu dan berjabat tanganlah pada sesama insan yang sama berjuang di jalan menuju fitri.
Ramadhan di singgasana cinta Nya dan Sang Khalik tak habis ku urai dalam bentang ribuan kilo meter sajadah.
Ya Allah, Ampuni dosaku
16 Ramadhan 2018